Peluang Usaha Budidaya Melon Dasar Umum dalam Budidaya Melon : Salah satu buah yang sangat di kenal di Indonesia adalah buah melon. Pada awalnya melon masih di anggap buah kelas atas / buah mahal. Hal ini karena melon masih merupakan buah import yang masuk ke Indonesia dengan jumlah terbatas, sehingga harga saat itu masih terlalu tinggi untuk masyarakat umum di Indonesia.
Teknologi Budidaya Melon
: Saat ini teknologi budidaya melon sudah di kuasai oleh para pelaku usaha pertanian. Berangsur-angsur buah melon sudah menjadi buah umum di konsumsi. Peran pelaku usaha pedagang buah keliling mempercepat penetrasi buah melon di masyarakat. Penjualan secara eceran "potongan kecil" membuat harga buah melon menjadi sangat resonable dan dapat di terima oleh masyarakat.
Penguasaan teknologi budidaya melon yang dikuasai pelaku usaha pertanian merupakan adaptasi dari budidaya buah semangka. Karena buah semangka sudah dikenal lebih dahulu. Perlu sebuah upaya pengembangan teknologi budidaya melon untuk menghasilkan produktivitas tinggi yang berdampak pada semakin baiknya ekonomi pelaku usaha budidaya melon.
Pemilihan Lokasi Budiaya Melon : Pembudidayaan Melon membutuhan lahan lokasi yang luas hal ini karena Melon masuk pada kategori tanaman vining (merambat). Hakikatnya tanaman merambat bentang tanaman memerlukan ruang yang cukup agar cahaya matahari dapat mencukupi kebutuhan tanaman melon. Budidaya tanaman melon tidak akan optimal jika di lakukan di lahan yang sempit. oleh sebab itu pelaku usaha pertanian / pembudidaya melon sebaiknya memilih lokasi yang luas atau sesuai dengan kebutuhan minimal tanaman melon.
Melon dapat tumbuh dengan baik dengan cara penanaman dalam di tanah yang berpasir atau tanah lempung berpasir. Untuk tanah berat / heavy soil yang mengandung banyak tanah liat dapat berakibat pada pertumbuhan melon yang lambat dengan buah yang cenderung kecil tidak subur dan berdampak pada produktivitas akhir usaha. Melon sangat menyukai tanah dengan PH Netral / tingkat keasaman netral. Untuk tanah yang cenderung asam membuat sistem pembungaan yang tidak kuat dan mudah gugur.
Soil Preparation / Persiapan Tanah / Persiapan Lahan dalam Budidaya Melon : Langkah pertama dalam budiaya melon adalah dengan mencangkul atau membajak tanah dengan kedalaman antara 10 cm s/d 15 cm. Penambahan pupuk kandang / kompos di perlukan untuk memperkaya unsur hara yang terkandung dalam tanah. Rata-rata kebutuhan pupuk kandang / kompos per hektar berkisar 2 ton s/d 4 ton. Penambahan pupuk kandang / pupuk kompos harus tertutup sempurna dengan tanah untuk mengoptimalkan penyerapan unsur hara oleh tanaman.
Karena tanaman melon membutuhkan sistem pengairan yang baik tidak terendam / terlalu banyak air perlu pembuatan gundukan tanah yang lebih tinggi dengan kisaran 6 cm s/d 15 cm di atas rata-rata tanah. Tanah berat dengan kandungan tanah liat yang tinggi sebaiknya dilakukan pengemburan tanah lebih baik dengan gundukan yang lebih tinggi s/d 15 cm. Satu kelompok baris tanaman di pisahkan dengan jarak berkisar 3 meter. Penggunaan plastik mulsa membantu suhu tanah untuk tetap hangat dan mempercepat proses pertumbuhan tanaman.
The post Peluang Usaha Budidaya Melon Dasar Umum dalam Budidaya Melon appeared first on www.PustakaDunia.com. Pustaka Dunia
Perkembangan Industri KOPI di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sejarah tentang pengiriman biji KOPI oleh Gubernur Belanda di Batavia pada tahun 1699 yang kemudian dibudidayakan di Pulau Jawa dan ternyata berhasil. Sejak tahun 1750-an, budidaya KOPI dikembangkan ke luar Jawa seperti Sumatera, Bali, Sulawesi dan Timor. Sayangnya, arah perkebunan KOPI pada masa VOC ini lebih diprioritaskan untuk ekspor, bukan untuk diolah lebih lanjut di dalam negeri. Jadi, industri KOPI praktis tidak berkembang. Baru sejak awal tahun 1920-an, industri KOPI dengan skala rumah tangga mulai muncul, kurang lebih bersamaan dengan diperkenalkannya KOPI robusta pada 1900-an untuk menggantikan KOPI arabika yang hancur karena diserang penyakit yang disebabkan oleh jamur.Beberapa perusahaan KOPI industri kecil yang muncul pada masa itu dan masih eksis hingga saat ini adalah Kedoeng Ladjoe di Sidoarjo, Jawa Timur (1928), Muntu di Purwokerto, Jawa Tengah, Toko Ujung di Makassar dan Aroma di Bandung (1930). Kemudian UD Basuki yang namanya dahulu KOPI Tigowan di Kendal, Jawa Tengah (1935), UD Putra Mandiri (namanya dahulu Tjeng Guan) dengan merek Cap Singa di Surabaya, KOPI Kapal Api di Surabaya (1927), Nam Hong di Sukabumi Jawa Barat (1942), Segar Harum di Binjai Sumatera Utara (1945), Binri Jamos di Pematang Siantar (1948), dan Sido Mulia di Malang Jawa Timur serta Kemiri Rejo di Magelang Jawa tengah (1949).Perusahaan-perusahaan KOPI berskala rumah tangga dan skala usaha kecil terus bermunculan hingga decade 1960-an. Tetapi berdirinya perusahaan KOPI skala besar baru dimulai sejak 1965 dengan berdirinya PT Ayam Merak yang ketika itu bernama Pabrik KOPI Banteng. Setelah itu, produsen KOPI berskala besar lainnya terus bermunculan, seperti CV Nefo di Jambi (1966), PT Megah Putra Sejahtera Intisari di Pekan Baru Riau (1969 sebagai Toko Liem), Perusahaan KOPI Sidikalang dan Nusantara di Medan Sumatera Utara.Adapun produsen-produsen besar yang merajai bisnis perKOPIan di Indonesia saat ini berdiri setelah tahun 1970-an. Dimulai dari PT Inbrasco pada 1972, kemudian disusul oleh PT Santos Jaya Abadi yang sebetulnya kelanjutan dari KOPI Kapal Api yang telah ada sejak 1927 di Surabaya, dan PT Indofood Jaya Raya (1978) yang kemudian berganti nama menjadi PT Nestle Indonesia (2000). Pada periode 1980-an, produsen KOPI yang berdiri adalah PT Sari Incofood Corporation (1984) dan PT Torabika Eka Semesta (1989). Kemudian pada periode 1900-an, perusahaan yang muncul adalah PT Citra Aroma Indah (1991) yang kemudian berganti nama menjadi PT Aneka Coffee Industry (1995).Rentang waktu yang amat panjang sejarah perKOPIan di Indonesia ini menjadikan jenis minuman ini telah membudaya penggunaannya di seatero nusantara. Bahkan meminum KOPI tidak hanya sebagai kebiasaan, tetapi sudah menjadi sebuah tradisi.
Tanaman ALPUKAT dapat tumbuh sampai 20 m (69 kaki), dengan panjang daun 12 cm (4,7 in) sampaiu dengan 25 cm (9,8 in). Bunga tanaman ALPUKAT mencolok, berwarna kehijauan hingga kuning, lebar bunga 5 milimeter (0,2 in) sampai dengan 10 milimeter (0,4 in). Buah ALPUKAT berbentuk seperti buah pir dengan panjang berkisar 7 cm (2,8 in) hingga 20 cm (7,9 in), berat buah ALPUKAT berkisar 100 gram (3,5 oz) hingga mencapai 1.000 gram (35 ons), dan memiliki biji tunggal yang besar dengan diameter biji mencapai 5 cm (2,0 in) hingga 6.4 cm (2,5 in).Alpukat membutuhkan iklim subtropis tidak bersalju dan dengan sedikit berangin. Angin kencang dapat mengurangi kelembaban, dehidrasi pada bunga alpukat dapat mempengaruhi penyerbukan bunga . Ketika salju ringan terjadi, salju tersebut dapat merontokan buah alpukat muda, meskipun tanaman Alpukat dapat mentolerir suhu hingga -1 ° C. Tanaman Alpukat membutuhkan aerasi tanah baik, idealnya alpukat ditaman kurang lebih 1 m dari permukaan tanam. Alpukat kurang baik jika ditanam di daerah dengan tingkat salinitas tinggi (asin). Kondisi tanah yang di sukai oleh tanaman alpukat dengan kondisi iklim yang sesuai hanya tersedia di beberapa daerah di dunia, khususnya di selatan Spanyol, Portugal, Kreta, Levant, Afrika Selatan, Kolombia, Peru, bagian tengah dan utara Chili, Vietnam, Indonesia, bagian India selatan , Sri Lanka, Australia, Selandia Baru, Filipina, Malaysia, Amerika Tengah, Karibia, Meksiko, California, Arizona, New Mexico, Texas, Florida, Hawaii, dan Ekuador. Setiap daerah memiliki berbagai jenis kultivar.Pohon atau Tanaman ALPUKAT rata-rata menghasilkan sekitar 500 buah ALPUKAT per tahun. Kebun komersial menghasilkan rata-rata
tujuh ton per hektar setiap tahun, dan di beberapa kebun mencapai 20 ton per hektar Pohon ALPUKAT tidak mentolerir suhu dingin, dan dapat tumbuh hanya di iklim subtropis atau tropis.ALPUKAT adalah buah klimakterik (seperti pada tanaman pisang), yang berarti tumbuh dan berkembang buah di pohon, tetapi matang setelah di petik dari pohon. ALPUKAT untuk perdagangan dipetik saat masih keras dan hijau dan disimpan dalam pendingin pada pada suhu 3,3-5,6 ° C (38-42 ° F) hingga alpukat di terima di tangan konsumen. ALPUKAT harus benar-benar matang untuk mencapai kematangan yang sempurna. ALPUKAT yang jatuh dari pohon akan matang di tanah. Umumnya, buah diambil setelah masak. ALPUKAT yang baik memiliki tingkat kekeringan lebih dari 23%, hal ini m enjadi standar yang sama bagi negara-negara penghasil alpukat. Setelah dipetik, ALPUKAT dapat matang dalam beberapa hari kemudian pada suhu kamar (lebih cepat jika disimpan digabungkan dengan buah-buahan lainnya seperti apel atau pisang, karena pengaruh gas etilen). Beberapa supermarket menjual buah ALPUKAT yang belum matang yang telah diperlakukan dengan etilena sintetis untuk mempercepat pematangannya. Dalam beberapa kasus ALPUKAT dapat dibiarkan di pohon selama beberapa bulan, yang merupakan keuntungan untuk petani alpukat komersial yang mencari laba yang besar untuk tanaman Alpukat mereka , tetapi jika buah terlalu lama di pohon alpukat dapat jatuh ke tanah.
Pada tahun 2009 terdapat sebanyak 473 perusahaan KOPI di Indonesia, dimana dari jumlah tersebut yang dipastikan masih aktif berproduksi ada sejumlah 205 perusahaan. Sedangkan Sebanyak 268 perusahaan lainnya merupakan perusahan dengan skala kecil atau skala rumah tangga yang aktifitas produksinya bersifat musiman atau tidak menentu, dan yang tidak dapat dilacak eksistensinya. Dari 205 perusahaan yang aktif tersebut, sebanyak 167 perusahaan memproduksi KOPI bubuk dan 57 perusahaan memproduksi KOPI mix instan. Yang menarik adalah sebagian besar dari perusahaan-perusahaan yang masih aktif tersebut (99 perusahaan atau 48,3%) justru berada di Pulau Jawa (DKI, Jawa Timur dan Jawa Barat). Dari 99 perusahaan tersebut, yang berdomisi di DKI merupakan yang paling banyak yakni 30 perusahaan. Padahal, DKI jelas tidak memiliki perkebunan KOPI. Jawa Timur yang merupakan salah satu sentra KOPI nasional masih wajar jika memiliki produsen sebanyak 22 perusahaan. Tetapi, Pulau Sulawesi yang merupakan sentra produksi KOPI nasional, utamanya Sulawesi Selatan, produsen yang masih aktif justru tinggal 9 perusahaan saja. Sentra produsen lainnya seperti Lampung hanya ada 8 produsen yang masih aktif, dan di Bengkulu hanya ada 2 perusahaan saja.Hal ini memberikan indikasi bahwa perputaran ekonomi di sentra produksi KOPI tertentu masih belum berkembang dengan baik, karena added value dari KOPI belum dapat dinikmati masyarakat setempat. KOPI masih dijual dalam bentuk asalan. Pembelian KOPI oleh produsen yang letaknya relatif lebih jauh dari sentra produksi KOPI, setidak-tidaknya relatif menekan harga ditingkat petani. Apalagi biaya transportasi lokal masih dikenal berbiaya tinggi.Jumlah Produsen KOPI dan Penyebarannya, 2009Selanjutnya, jika dilihat dari segi jenis KOPI olahan yang dihasilkan, produsen KOPI di Indonesia masih terbesar memproduksi KOPI bubuk atau KOPI mix, dan hanya sebagian kecil saja yang memproduksi KOPI instan. Kecilnya jumlah produsen dari KOPI instan (pure instant) disebabkan karena investasinya jauh lebih besar, dan pasarnya di dalam negeri masih jauh lebih kecil dibandingkan KOPI bubuk.Dari data menunjukkan bahwa produsen yang menguasai pasar KOPI instan di Indonesia hanya terdiri atas tiga perusahaan saja, yakni PT Nestle Indonesia yang berdomisili di Lamping dengan kapasitas 12.000 ton per tahun, PT Sari Incofood Corporation dengan kapasitas produksi sebesar 3.000 ton per tahun, dan PT Torabika Eka Semesta dengan kapasitas produksi mencapai 3.600 ton per tahun.Jika dilihat dari status permodalan perusahaan, dari 205 perusahaan yang dipastikan aktif beroperasi tersebut, ternyata hanya 5 (lima) perusahaan saja yang menggunakan fasilitas penanaman modal asing (PMA), yaitu PT Aneka Boga Nusantara, PT Aneka Coffee Industry, PT Carrefour Indonesia, PT Nestle Indonesia, dan PT Toarco Jaya.Tetapi PT Carrefour Indonesia yang pemodal asingnya berasal dari Perancis yakni Continent Hyermarces, dan dari Belanda yakni Carrefour Nederland B.V. dan Onesia B.V. sebetulnya belum memiliki pabrik KOPI di Indonesia, sehingga perusahaan ini masih bekerja sama dengan PT Goodfood Indonesia dalam bentuk mitra sewa produksi (makloon). Sedangkan PT Toarco Jaya yang pabriknya berlokasi di Tana Toraja, pemodal asingnya berasal dari Jepang yang diwaliki oleh Sulawesi Development Company Ltd, dan mitra lokalnya adalah PT Utesco.PT Aneka Boga Nusantara sendiri pemodal asingnya berasal dari dua negara yakni dari Jepang (Daesang Japan Inc.) dan dari Korea Selatan (Daesang Food Corporation) dengan mitra lokal yakni PT Miwon Indonesia Tbk dan PT Jico Agung.Selanjutnya yang memanfatkan fasilitas penanaman modal dalam negeri (PMDN) terdapat 9 perusahaan, berturut-turut PT Inbraco (Jakarta), PT Torabika Eka Semesta (Jakarta), PT Tri Cipta Chandra (Tangerang), PT Megah Putra Sejahtera (Makassar), PT Setia Unggul Mandiri (Makassar), PT Konimex (Solo), PT Perkebunan Nusantara IX (Kendal), PT Perkebunan Nusantara XII (Jember), dan PT Putra Bhinneka Perkasa (Depasar). Artinya, mayoritas produsen KOPI lokal (191 perusahaan) belum memanfaatkan fasilitas penanaman modal dari BKPM.
Profil Pemain Utama ; PT Santos Jaya Abadi dengan merek andalan utamanya Kapal Api merupakan market leader di pasar KOPI bubuk di pasar domestik dewasa ini, dimana masih sulit ditandingi oleh produsen atau merek KOPI bubuk lainnya yang tentunya bersaing dengan ketat di pasaran. Kekokohan dari merek Kapal Api ini mengacu kepada hasil riset MARS Indonesia di “Indonesia Consumer Profile (ICP)” yang dilakukan secara rutin setiap tahun.Adapun pada tahun 2007, pangsa pasar Kapal Api mencapai hampir setengah dari total pasar KOPI bubuk bermerek di dalam negeri (44,3%), sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya (2006) yang sebesar 44,0%. Pada tahun 2008, pangsa pasar ini sedikit naik menjadi 47,2%, tetapi kemudian pada tahun 2009 kembali turun menjadi 43,6%. Atau dengan kata lain, dalam empat tahun terakhir pangsa pasar merek Kapal Api sebesar 45% per tahun. Atau dua setengah kali lipat lebih tinggi dibandingkan pangsa pasar merek kedua terbesar yakni merek ABC (dalam tahun 2009 sebesar 18.9%).Jadi, dengan dua merek ini saja, PT Santos Jaya Abadi betul-betul mendominasi pasar bubuk bermerek di dalam negeri, yakni mencapai 62.5%. Belum lagi merek-merek lainnya yang juga sudah dikenal baik di pasaran seperti Ya dan Good Day.Untuk menjadi perusahaan yang besar seperti saat ini, PT Santos Jaya bukanlah tanpa tantangan dalam perjalanan bisnis yang diawali dengan skala industri rumah tangga sederhana. Awalnya perusahaan ini didirikan di Surabaya pada tahun 1927 oleh Go Soe Loet, seorang perantau dari Cina daratan. Berbeda dengan pengusaha KOPI bubuk lainnya, ia menaruh perhatian yang fokus pada mutu aroma dan rasa dari produk KOPInya, dikombinasi dengan harga yang terjaga dan terjangkau oleh masyarakat luas. Ternyata apa yang dilakukannya ini terbukti menjadi senjata pamungkas keberhasilannya membesarkan usahanya. Dengan kiat yang tepat tersebut, perusahaaan pun tumbuh dengan cepat dan dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama, perusahaan mulai memproduksi KOPI dengan merek “Kapal Api”.Hingga tahun 1970, kemampuan produksi usaha keluarga ini masih hitungan ratusan kilogram saja per hari dan kemasannya pun masih dari kertas. Baru setelah tahun 1970, berkenaan dengan aktifnya generasi kedua keluarga ini dalam mengelola perusahaan, perubahan drastis pun terjadi baik dari sisi modernisasi mesin produksi, pengembangan manajemen, meningkatkan keterampilan tenaga kerja maupun dalam hal perluasan jaringan distribusi hingga ke seluruh Jawa Timur.Keberanian manajemen memasang iklan di TVRI pada akhir 1970-an juga menjadi pemicu kesuksesan pemasaran produknya hingga dikenal secara nasional, tidak hanya di Jawa Timur saja. Bisa dikatakan, perusahaan ini menjadi pelopor iklan produk KOPI di layar kaca. Penjualan pun langsung meningkat berlipat ganda.Secara yuridis perusahaan ini didirikan pada 18 Mei 1979 dengan nama PT Santos Jaya Coffee Company. Satu tahun kemudian, nama perusahaan diubah lagi menjadi PT Santos Jaya Abadi. Nama ini bertahan hingga saat ini.Perusahaan pun terus berkembang, dan pada tahun 1980 manajemen membangun pabrik yang sekarang berada di Sepanjang, Sidoarjo, Jawa timur. Pada tahap ini, merk Kapal Api telah menjadi penyangga utama perusahaan yang tersebar rata di seluruh Indonesia sekaligus menjadi pemimpin pasar dengan rangkaian produk lengkapnya.Setelah beberapa kali melakukan perluasan usaha, terakhir perusahaan ini melakukan pemasangan mesin baru buatan Jerman, sehingga kapasitas produksinya meningkat tajam dari 5 ton per jam menjadi 15 ton per jam. Artinya, jika perusahaan bekerja 300 hari per tahun dan dua shift per hari (@ 8 jam), maka utilitas produksi pertahunnya mampu mencapai 72.000 ton per tahun. Suatu kapasitas yang amat besar jika dibandingkan dengan konsumsi KOPI bubuk per tahun di dalam negeri saat ini yang berada pada sekitar 130.000 ton per tahun (atau sekitar 55% dari total konsumsi).Melanjutkan sukses merk Kapal Api dan demi kepuasan pelanggan, PT Santos Jaya Abadi memperkenalkan beberapa merk KOPI lain yang juga berhasil meraih sukses di pasaran, yaitu Excelso, ABC, Good Day, Ya dan Kapten. Tampaknya merek Kapten khusus disegmentasikan ke daerah luar Jawa.Tentunya, manajemen perusahaan ini bukan tidak ada kegagalan dalam membangun usaha perKOPIan bubuk ini. Merek DANGDUT yang pernah diluncurkan ke pasar, pada akhirnya dihentikan produksinya. Demikian pula, KOPI celup merek SANTOS yang diluncurkan ke pasar sejak 1993 juga saat ini telah dihentikan produksinya.Hingga kini, PT Santos Jaya Abadi dengan rangkaian produknya telah menjadi bagian dari keseharian dan bahkan berlangsung dari generasi ke generasi. Hal ini tidak terlepas dari buah manajemen yang prima, dedikasi menyeluruh dari seluruh staff dan tentu saja layanan serta kualitas tinggi dari produk. Berikut ini disajikan profil produk dari PT Santos Jaya Abadi.
PT Torabika Eka Semesta (PT TES). Meskipun dari segi penguasaan pasar kopi bubuk, perusahaan ini dengan merek andalannya Torabika amat jauh kalah bersaing dibandingkan dengan PT Santos Jaya Abadi, namun kehadiran perusahaan ini masih layak tetap diperhitungkan sebagai pemain utama bisnis kopi bubuk di Indonesia. Penguasaan pasar merek Torabika ini kurang dari 10% saja. Itupun, pada 2008 lalu sempat anjlok cukup signifikan menjadi 4.9% saja, lebih rendah dibandingkan tahun 2006 yang sebesar 8,7% atau pada 2007 yang sebesar 7,4%. Namun, pada 2009 lalu kembali naik lagi menjadi 7,5%.Perusahaan yang didirikan pada tahun 1989 dengan fasilitas Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) ini, baru dapat berproduksi secara komersial pada tahun 1990. Kemudian perusahaan ini bergabung dalam group usaha PT Mayora Indah pada 1994.Selain kopi bubuk yang diproduksi di pabriknya di Jakarta Barat dengan kapasitas 1.200 ton per tahun, perusahaan ini juga memproduksi kopi instan di pabriknya di Tangerang, Banten dengan kapasitas 3.600 ton per tahun.Dalam memasarkan produknya perusahaan ini menggunakan merek dagang TORABIKA. Belakangan, produksi kopi instannya diberikan nama KOPIKO yang lebih diarahkan untuk ekspor, walaupun juga dipasarkan di dalam negeri. Berbagai varian produk pun diluncurkan dan merupakan produk instant mix, yakni merek Torabika moka diluncurkan pada 2007 dan Torabika OKE pada 2008. Ada lagi merek lainnya bernama Torabika Duo.Dalam mengatasi persaingan, perusahaan ini cukup aktif melakukan iklan dan promosi-promosi lainnya. Namun, dari penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa iklan yang dilakukan perusahaan ini kurang efektif mempengaruhi secara positif terhadap sikap konsumen dan perilaku pembelian. Justru promosi penjualan secara below the line lebih efektif dalam memberikan pengaruh positip terhadap perilaku pembelian. Padahal, mustinya pengaruh iklan inilah yang jauh lebih diandalkan dari pada promosi penjualan saja. Tidak mengagetkan, jika perusahaan ini agak kepayahan mengatasi persaingan yang ketat dengan PT Santos Jaya Abadi dan produsen-produsen kopi lainnya, dimana dalam persaingan tersebut muncul peristiwa yang dapat memperburuk citra Torabika, yakni ada kupon bertuliskan “Anda mendapat hadiah Mobil Innova” di dalam sachet kopi.Selain dipasarkan ke dalam negeri, kurang lebih seperlima dari produksi perusahaan ini dipasarkan ke luar negeri sejak 1993, dengan Negara tujuan antara lain Arab Saudi, Singapura dan Thailand.Berikutnya yang tergolong pemain utama lainnya di percaturan bisnis kopi bubuk adalah PT Ayam Merak. perusahaan ini dengan merek andalannya AYAM MERAK mampu mencapai pangsa pasar kopi bermerek hingga 1,0% saja. Dalam survey yang sama pada 2009, pangsa pasar ini naik menjadi 1,5%.Perusahaan yang didirikan pada tahun 1979 ini sebelumnya bernama Pabrik Kopi Banteng yang didirikan pada 1965. Seiring dengan perkembangan pasar kopi bubuk di dalam negeri, perusahaan ini meningkatkan penggunaan mesin mutakhir untuk memelihara kualitas produk yang dihasilkan dan juga melakukan pengembangan produk berupa penganekaragaman merek, kemasan dan ukuran.Kini, produk dari perusahaan ini tidak saja dikenal dengan merek Ayam Merak saja tetapi sudah diluncurkan berbagai merek lainnya, yaitu BEGADANG, DUO AYAM, ]AGO BANGKOK, ]AGO SATU, CUNG dan ISTANA. Bahkan sebelumnya sempat diluncurkan merek MUNDIAL, tetapi kemudian dihentikan produksinya. Kemudian, kemasan yang awalnya hanya kaleng, tetapi sekarang sudah bervariasi, ada yang dalam bentuk kantong/polibag dengan berbagai ukuran. Dari sisi produk, juga sudah berkembang ke arah kopi mix dengan berbagai varian seperti plus gula, susu, moka dan lain-lain.
Karakteristik Usaha Industri /Peta Industri : Struktur industri KOPI di dalam negeri secara garis besar dapat digolongkan ke dalam 3 kelompok, yaitu: Industri KOPI Olahan Skala Kecil (Home Industry), Industri KOPI Olahan Kelas Menengah, Industri KOPI Olahan Kelas Besar.Industri yang tergolong dalam kelompok ini adalah industri yang bersifat rumah tangga (home industry) dimana tenaga kerjanya adalah anggota keluarga dengan melibatkan satu atau beberapa karyawan. Produk dipasarkan di warung atau pasar terdekat /di sekitar pabrik dengan menggunakan merek (private brand) atau tanpa merek. Industri yang tergolong pada kelompok ini pada umumnya tidak terdaftar di Dinas Perindustrian maupun di Dinas BPOM. Industri pada kelompok ini menyebar pada daerah sentra produksi KOPI.Industri KOPI yang tergolong pada kelompok ini merupakan industri pengolahan KOPI yang menghasilkan KOPI bubuk atau produk KOPI olahan lainnya seperti minuman KOPI yang produknya dipasarkan di wilayah kecamatan atau kabupaten tempat parbik KOPI tersebut berdomisili. Produk umumnya dikemas dalam kemasan yang sederhana dan telah memperoleh ijin dari Dinas Perindustrian setempat sebagai produk rumah tangga. Pabrik KOPI olahan kelas menengah ini banyak dijumpai di sentra produksi KOPI seperti di Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Jawa Timur.Industri KOPI kelompok ini merupakan industri pengolahan KOPI yang menghasilkan KOPI bubuk, KOPI instan atau KOPI mix, dimana hasil produksinya dipasarkan tidak hanya terbatas di wilayah pabrik tersebut berdomisili, tetapi juga dipasarkan ke berbagai daerah di dalam negeri, dan bahkan diekspor. Produk dikemas dalam kemasan yang menarik, dan telah mendapatkan nomor Merek Dagang dan atau label lainnya. Beberapa perusahaan yang tergolong kelompok industri ini, dan merajai perKOPIan di Indonesia dewasa ini adalah PT Santos Jaya Abadi, PT Torabika Semesta, PT Nestle Indonesia
Populasi penduduk Indonesia yang pada tahun 2005 sebanyak 220 juta, dan kemudian diperkirakan sudah meningkat menjadi 231 juta pada 2009 merupakan potensi pasar yang sangat menjanjikan untuk pemasaran produk-produk makanan dan minuman, termasuk minuman KOPI. Apalagi, minuman ini bukan lagi jenis minuman yang asing bagi masyarakat Indonesia, karena sudah dikenal sejak abad ke-17 dengan dibudidayakannya tanaman KOPI ini oleh pemerintah Hindia Belanda (VOC) sebagai salah satu andalan komoditas ekspor pada waktu itu. Berbeda misalnya dengan minuman cokelat, minuman KOPI telah membudaya penggunaannya oleh masyarakat di seantero nusantara, baik di perdesaan maupun di perkotaan. Bahkan pada kalangan tertentu yang sudah menjadi penggemar KOPI, berlaku motto, “tak ada hari tanpa minum KOPI”.Jika diperhitungkan terhadap total penduduk Indonesia pada 2008 yang mencapai 227,8 juta jiwa, dan penggunaan KOPI bubuk dan instan pada tahun yang sama sebanyak 138.383 ton, artinya konsumsi KOPI per kapita Indonesia masih sebesar 0,6 kg per kapita per tahun. Angka konsumsi ini masih jauh rendah dibandingkan Negara-negara Eropa seperti Finlandia (12,0 kg), Norwegia (9,9 kg), Belanda (8,4 kg), Denmark (8,7 kg), Swedia (8,2 kg), Swiss (7,9 kg) dan lain-lain. Dengan Negara-negara tetangga seperti Filipina dan Malaysia pun kita masih lebih rendah. Konsumsi Filipina 0,7 kg per kapita dan Malaysia 0,9 kg per kapita. Artinya, dari segi potensi pasar, Indonesia masih memiliki peluang untuk meningkatkan pasar KOPI di dalam negeri.Yang tidak kalah menarik pula adalah dimana dalam beberapa tahun terakhir makin marak berkembangnya café coffee sebagai sebuah tren di kota-kota besar, dan bahkan juga penjual KOPI minuman asongan yang berjamur kehadirannya di berbagai sudut kota. Tak pelak lagi, fenomena ini mendorong peningkatan konsumsi KOPI, khususnya di kalangan anak muda dan masyarakat bawah.Yang tidak kalah menarik lainnya adalah fenomena dinamika pasar KOPI minuman itu sendiri, baik KOPI bubuk maupun KOPI instan yang terus dinamis. Salah satunya adalah berkembangnya segmen pasar penggemar KOPI mix dengan berbagai varian rasa.Namun besarnya potensi pasar produk KOPI tersebut tidak serta merta dapat dimanfaatkan begitu saja dalam melakukan penetrasi pasar untuk meningkatkan penjualan, karena berbagai kendala yang terus menghadang, baik dari sisi persaingan terhadap produk yang sama dari serbuan produk impor; maupun saingan dari produk minuman sejenis seperti minuman teh dan berbagai jenis minuman ringan atau bahkan dengan minuman supplemen. Faktanya dari riset ini, beberapa produsen kecil dan menengah pada 2008 lalu tidak mampu melanjutkan aktifitas produksinya, alias bangkrut. Artinya persaingan ketat di antara produsen KOPI, baik KOPI berskala nasional, menengah dan juga berskala kecil tak dapat dielakkan dan ketat. Fenomena dinamika persaingan pasar yang terus menerus bergerak ini mau tidak mau harus selalu diikuti oleh para produsen dan lembaga-lembaga yang terkait dengan bisnis KOPI minuman ini di dalam negeri, seperti lembaga perbankan dan lembaga pembiayaan lainnya.
KUNCI SUKSES USAHA / INDUSTRI KOPI : KOPI bubuk merupakan produk olahan KOPI yang dominan penggunaannya di dalam negeri dari pada jenis KOPI olahan lainnya. Pengolahan KOPI bubuk ini relatif sederhana sehingga dapat dilakukan pada skala usaha rumah tangga. Karena itu, di pasar cukup banyak ditemukan KOPI tanpa merek yang memiliki pangsa pasar tersendiri dan tetap eksis. Mengapa demikian?Karena KOPI ini sifat penggunaannya mirip dengan rokok. Ada faktor kecanduan pada rasa dan aroma tertentu. Jadi, defenisi kualitas pada produk KOPI sebetulnya lebih merujuk kepada rasa dan aroma yang sudah melekat pada kebiasaan mengkonsumsi jenis KOPI tertentu. Inilah yang membuat KOPI bubuk tanpa merek akan tetap eksis. Artinya, salah satu faktor kunci di industri KOPI ini agak tetap eksis adalah dalam hal mempertahankan konsistensi rasa dan aroma KOPI original, dan telah diperkenalkan kepada konsumen sejak mereka berumur di atas 15 (lima belas) tahun. Dibarengi dengan pembelajaran kepada konsumen secara terus menerus tentang khasiat minuman ini dalam mempertahankan stamina tetap stabil (tidak menjadi loyo atau ngantuk), dan sebaliknya sekaligus juga pemberitahuan larangan bagi mereka yang terkena penyakit tertentu.Ke depan, produsen yang eksis adalah produsen yang mampu memperkenalkan KOPI dengan rasa dan aroma yang khas dan menjaga konsistensi kekhasan tersebut. Untuk menjaga konsistensi kekhasan KOPI, produsen mau tidak mau harus bermitra dengan kelompok tani KOPI dan memberikan pembimbingan budidaya yang tepat agar didapatkan kualitas KOPI yang seragam dan baik, sebagaimana selama ini telah dikembangkan oleh PT Toarco Jaya di Sulawesi Selatan dan PT Nestle Indonesia di Lampung Selatan.Selanjutnya, untuk memperluas wilayah distribusi produk, maka mau tidak mau kunci suksesnya terletak pada keberanian mempromosikan produk, terutama media cetak atau media radio; dan yang lebih canggih lagi adalah melalui layar televisi, sebagaimana telah dilakukan pertama kali oleh KOPI Kapal Api ketika pada awalnya KOPI ini menjangkau daerah Jawa, dan kemudian ke luar Jawa.
Ramadhan baru saja berakhir sangat menyenangkan jika saat berbuka disajikan minuman sejenis es teler atau pun sop buah, memberikan kesegaran setelah berpuasa sehari penuh. Namun tau kah anda bahwa di dalam minuman tersebut terdapat buah yang memiliki karakteristik yang berbeda, dengan rasa yang jauh dari manis namun memiliki rasa gurih dan lembut, ya itu adalah buah alpukat. Alpukat (Persea americana) adalah pohon tanaman asli yang berasal dari Meksiko Tengah, buah alpukat sangat dikenal di Indonesia terutama di gunakan sebagai campuran maupun menu utama sajian minuman pelepas dahaga. Alpukat diklasifikasikan dalam keluarga tanaman berbunga Lauraceae seperti pada tanaman dengan kayu manis maupun tanaman kayu kamper. Alpukat tergolong dalam buah (botanikal berry besar dengan benih berbiji tunggal dengan berbentuk buah bulat, memanjang mapun berbentuk telur. Secara ilmiahnya kalisifikasi alpukat sebagai berikut :Klasifikasi Ilmiah Tanaman Alpukat : Kingdom : Plantae, Phylum : Angiosperms, Class : Magnoliids, Order : Laurales, Family : Lauraceae, Genus : Persea, Species : P. americanaAlpukat atau dengan nama lain P. americana berasal di negara bagian Puebla, Meksiko. Tanaman alpukat tertua di meksiko dikenal sebag
ai criollo, dengan buah yang kecil dan kulit buah hitam pekat, juga berisi biji buah yang besar. Bukti tertua penggunaan alpukat ditemukan di sebuah gua yang terletak di Coxcatlán, Puebla, Meksiko, yaitu sekitar 10.000 SM. Pohon / Tanaman alpukat juga memiliki sejarah panjang pembudidayaan nya baik yang ada di Amerika Tengah dan Amerika Selatan;. Toples air berbentuk seperti buah alpukat, ditemukan di kota suku pra-Inca yaitu kota Chan Chan. Pembahasan tentang alpukat paling awal ditulis yaitu “alpukat di Eropa” adalah Martín Fernández de Enciso (1470-1528) pada tauhn 1518 atau 1519 dalam bukunya, “Suma de Que Trata Geographia de Todas Las Partidas Del Mundo Y Provincias” yang pertama catatan tertulis dalam bahasa Inggris penggunaan kata ‘alpukat’ itu oleh Hans Sloane dalam indeks 1696 tanaman Jamaika. Tanaman itu diperkenalkan ke Indonesia pada tahun 1750, Brasil pada tahun 1809, kawasan Mediterania timur pada 1908, dan Afrika Selatan dan Australia pada akhir abad 19.Kata ‘alpukat’ / avocado berasal dari bahasa Spanyol “aguacate” yang berasal dari kata “ahuácatl Nahuatl”. Alpukat dikenal oleh suku Aztec sebagai ‘buah kesuburan’. Di beberapa negara Amerika Selatan, seperti Argentina, Bolivia, Chili, Peru, dan Uruguay, alpukat dikenal dengan nama “Quechua” . Di negara Meksiko dan Portugis desebut dengan “abacate”. Sering juga selain disebutalpukat atau disebut dengan pir buaya (karena bentuk dan kulit hijau kasar ). Alpukat dikenal sebagai Buah Mentega di beberapa bagian India. Dan Di Cina dikenal sebagai buah pir buaya atau mentega.Buah Alpukat memiliki nilai ekonomis tinggi, selain sebagai bahan minuman alpukat banyak dipergunakan sebagai bahan campuran produk-produk kosmetik. Alpukat dapat di budidayakan diseluruh dunia baik dengan iklim tropis maupun iklim subtropis, Buah alpukat yang dihasilkan berkulit hijau, bentuk buah seperti buah pir atau pun bulat. Sebagian tanaman buah alpukat dapat melakukan penyerbukan sendiri ataupun dilakukan rekayasa tanaman untuk menghasilkan buah alpukat yang terjaga baik kualitas maupun kuantitasnya. Berikut adalah jumlah produksi negara-negara penghasil alpukat terbesar di dunia.Kita akan lanjutkan tulisan tentang alpukat pada artikel selanjutnya.budidaya alpukat (19), peluwang bisnis alpukat (3), pembibitan alpukat (3), budidaya buah alpukat (2), cara budidaya pohon alpukat (2), pembudidayaan apukat (1), alpkatualpukat (1), Pohon&buah pokat (1), produksi alpukat (1), SEJARAH IJIN USAHA GURAMEH (1), klasifikasi tumbuhan APOKAT (1), klasifikasi apukat (1), klasifikasi alpukat (1), klasifikai alpukat (1), kingdom alpukat (1), Budidaya alpuket (1), budidaya alpukat mentega (1), Bertani buah alpuket (1), tanaman avocado (1)